Author Archives: ambrosidor

Membuat bahan ajar yang baik

Seorang guru harus mempersiapkan bahan ajar yang baik sebelum masuk kelas. Banyak cara bisa dilakukan untuk membuatnya. Mulai dari buku-buku, sumber-sumber variatif hingga membuat peraga. Tunuan bahan ajar adalah untuk mempermudah siswa dalam memahami materi yang sedang diajarkan.

Selain menyampaikan pelajaran berupa menjelaskan buku teks pegangan, guru akan lebih terlihat atraktif bila menggunakan peraga dalam proses pembelajaran. Bahan peraga bisa saja dibuat dari kertas karton, atau lebih praktis lagi disampaikan dalam bentuk video atau power point.

Video atau efek pada power point dapat menarik perhatian siswa saat proses pembelajaran sedang berlangsung. Untuk membuat power point yang baik tidaklah sulit, kita bisa saja mencari template yang cocok untuk kegiatan belajar mengajar secara gratis di internet, salah satunya kumpulan power point template free bisa dilihat here disana banyak disediakan templates powerponint secara gratis.

Bhan ajar yang disebutkan dalam silabus atau RPP harus dipenuhi oleh seorang guru, sebab itu merupakan point penilaian kemampuan kompetensi seorang guru. bila guru tidak mengadakan apa saja yang disebut dalam RPP itu artinya guru tidak menjalankan kegiatan pembelajaran sesuai dengan perencaranaan.

semoga hal ini bisa dipahami oleh kita semua guru ataupun calon guru.

Mengajar anak dengan prakarya karangan bunga

Di beberapa sekolah PAUD saat ini banyak anak yang diajarkan mengarang bunga, merangkai lego dan lain sebagainya. Tujuan pengajaran prakarya karangan bunga ini adalah untuk meningkatkan kreatifitas dan daya imajinasi anak. Perlu kita ketahui bahwa perkembangan imajinasi haru dilatih sedini mungkin, agar anak mampu mengembangkannya dalam bentuk karya nyata.

Hari ini sekolah mengundang toko karangan bunga papan di Surabaya untuk membantu melatih anak dalam berkreasi dan meningkatkan kreativitas. Sekolah memilih merangkai bunga salah satu alasannya adalah karena kebanyakan anak suka bunga. Sehingga akan menarik minat mereka terhadap tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

Merangkai bunga papan bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan, tapi bagi anak balita hal ini tentu tidaklah mudah. oleh karena itu secara perlahan pelatih memaparkan teknik sederhana dalam merangkai bunga papan ini kepada anak didik, sehingga dapat mencapi tujuan yang diinginkan.

Sudah beberapa kali sekolah mengundang toko karangan bunga surabaya ini ke sekolah untuk bekerja sama melatih anak paud dan playgroup dalam mengembangkan kreativitas dan daya fikir anak. Mereka akan bersenang-senang dengan benda-benda yang memang mereka sukai. Beberapa kali mereka sempat bertanya apakah pekerjaan mereka cukup bagus atau tidak, saat itu setiap pengajar harus memberikan reward dan apresiasi yang mendukung bakat setiap anak.

Cara ini terbukti sangat baik meningkatkan kreativitas anak dalam berkarya, dan sudah menjadi tradisi di sekolah kami. Harapannya dukungan serupa dan metode kreatif sejenis dapat diterapkan sesering mungkin agar anak benar-benar berkembang dengan baik. Metode ini juga telah diadopsi beberapa sekolah di sekitar kota surabaya, khusunya PAUD dan TK yang ada di sekitar Surabaya.

Harapan tentu sangat banyak dari pengurus, terutama untuk meningkatkan kemampuan setiap anak secara pribadi dan kerjasama mereka dalam team. Pengerjaan bunga papan haruslah dengan team, sehingga anak akan terlatih dengan prinsip-prinsip kepemimpinan yang mereka terapkan langsung saat bermain dan belajar.

Begitulah cerita tentang melatih kemampuan andak dalam mengembangakan kreativitas dan imajinasi dengan bermain merangkai karangan bunga di kaota kami. semoga cerita ini bermanfaat dan bisa menambah referensi pengajaran bagi kita semua.

Perkembangan anak dalam berbagai thesis

banyak sekali thesis tentang perkembangan anak dari waktu ke waktu, berut ini beberapa judul thesis yang berkaitan dengan perkembangan anak:

  1. pengaruh lingkungan terhadap perkembangan anak
  2. makalah pengaruh lingkungan terhadap perkembangan anak
  3. pengaruh lingkungan terhadap perilaku manusia
  4. pengaruh lingkungan terhadap kepribadian seseorang
  5. pengaruh lingkungan terhadap manusia
  6. pengaruh keluarga terhadap perkembangan anak
  7. pengaruh lingkungan terhadap pendidikan
  8. pengaruh lingkungan keluarga terhadap kepribadian anak

Kemungkinan judul-judul tersebut diatas telah pernah dipublikasikan di berbagai media seperti jurnal ataupun dalam bentuk thesis skripsi. Perkembangan anak memang sebuah thema yang cukup menarik dijadikan skripsi, karena dari waktu ke waktu ada saja hasil penelitian yang memberikan hasil berbeda.

Jika ingin mencari sumber bacaan atau referensi untuk tesis ataupun skripsi terkait perkembangan anak, maka anda bisa mebacanya dalam berbagai repository universitas yang dipublikasikan secara online. Atau bisa juga membuka beberapa jurnal online yang saat ini sudah banyak yang bisa diakses secara gratis.

Pendidikan anak usia dini

Defenisi pendidikan anak usia dini berdasarkan beberapa buku teori adalah sebagai berikut:

Dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (UU Nomor 20 Tahun 2003 Bab I Pasal 1 Ayat 14)

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang Pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.

Masih ada beberapa pengertian pendidikan anak usia dini yang bisa kita temukan, baik pada Undang-undang maupun buku teks dan hasil penelitian berupa skripsi dan tesis.

Melatih anak harus dimulai dari kebiasaan, kebiasaan akan membentuk karakter anak di masa yang akan datang. Setiap usaha yang kita lakukan kepada anak akan membuahkan hasil, mungkin bukan sekaran, tapi pasti disuatu saat akan terlihat hasil yang baik. teknik melatih anak ini pernah saya baca di http://banaks.blogspot.com anda juga bisa melihat beberapa teknik melatih anak mandiri dalam berbagai hal seperti buang air senriti, lepas dari pampers (popok), membiasakan tidur sendiri dan lain sebagainya yang ditulis secara apik dan mudah dipahami.

semoga bermanfaat.

Pelatihan Toilet Pada Anak Balita

Kemampuan buang air di toilet adalah kemampuan alamiah pada setiap anak manusia. Banyak orang tua mengharapkan proses toilet pelatihan sesegera mungkin, padahal melatih anak butuh proses panjang dan sulit. Namun, banyak kesulitan dapat dicegah atau diminimalkan jika orangtua menunggu sampai anak-anak mereka siap untuk melatih, dan jika mereka pergi tentang pelatihan dalam cara yang logis, konsisten, dan matter-of-fact.

toilet training pada anak latihan buang air buka celana

Kesiapan untuk toilet pelatihan secara otomatis tidak terjadi ketika seorang anak mencapai usia tertentu. Sebaliknya, anak-anak, selama berbulan-bulan secara bertahap menjadi secara fisik dan emosional siap untuk menghadapi tantangan ini.

Berikut adalah informasi untuk membantu orang tua memutuskan Kapan waktu tepat untuk memulai pelatihan toilet dengan anak-anak mereka, apa metode sesuai, dan tips untuk membantu membuat proses toilet pelatihan sebagai bebas stres mungkin. Saat membaca bahan ini, orang tua harus diingat bahwa kunci untuk pengalaman sukses pelatihan toilet adalah untuk tidak membuat terlalu besar kesepakatan itu.

Ketika mulai Toilet pelatihan orangtua harus mempertimbangkan beberapa hal ketika memilih waktu yang tepat untuk memulai pelatihan toilet:

* Anak usia. Kebanyakan anak-anak mulai menunjukkan tanda kesiapan di suatu tempat antara usia 24-30 bulan. Ini adalah agak berbagai. Waktu di mana seorang anak siap untuk melatih tergantung pada anak, dan usia di mana anak sudah siap untuk melatih bervariasi secara luas dari anak untuk anak. Umumnya, saat anak mendekati 30 bulan usia, kesiapan ini menjadi lebih dan lebih jelas. Sebelum sekitar 24 bulan usia, kebanyakan anak-anak tidak mampu secara fisik untuk secara konsisten mengendalikan kandung kemih atau usus mereka. Pada kenyataannya, mereka sering memiliki sangat sedikit kesadaran fungsi tubuh. Sebagai aturan umum, remaja anak adalah ketika toilet pelatihan dimulai, semakin cepat proses akan. Anak-anak cenderung menolak jika pelatihan dimulai terlalu dini.

* Adanya tanda-tanda kesiapan lain. Usia anak bukanlah satu-satunya penentu kesiapan toilet pelatihan. Beberapa kesiapan tanda-tanda lain harus jelas untuk toilet pelatihan menjadi efektif (lihat bawah). Jika orang tua mencoba untuk memulai pelatihan toilet sebelum anak mereka sudah siap, mereka akan mengatur diri mereka untuk banyak frustrasi (untuk diri mereka sendiri dan untuk anak-anak mereka). Anak-anak cenderung menolak jika orang tua mencoba untuk melatih mereka sebelum mereka siap.

* Individu anak. Sangat penting bagi orangtua untuk membiarkan anak-anak mereka memimpin jalan. Jika anak tampak tertarik dengan toilet pelatihan, orang tua harus melanjutkan. Jika anak mereka tampaknya tahan, itu mungkin terbaik untuk menaruh pelatihan untuk sementara. Mustahil untuk memaksa seorang anak untuk melatih toilet.

* Stres. Itu bukanlah ide yang baik untuk memulai pelatihan ketika anak atau keluarganya berada di bawah stres (misalnya, kedatangan bayi, pindah ke rumah baru, perubahan dalam pengasuh). Dalam keadaan ini, lebih baik untuk menunggu sampai hal-hal telah menetap, untuk menghindari frustrasi dan kekecewaan.

melatih anak tidak pakai popok

Kapan harus melatih anak tidak pakai pampers lagi?

Pertanyaan menarik, kapan saat yang tepat melatih anak untuk mandiri dalam urusan buang ari (toilet training). Kunci utama keberhasilan adalh ketika anak mampu melepas pakaiannya sendiri. Bila itu sudah bisa ia lakukan, sudah saatnya kita melatihnya untuk buang air sendiri di kamar mandi. Jadi tidak lagi dibutuhkan pampers.

anak lepas pampers popok tidak pakai

Ketika dia benar-benar menggunakan toilet independen (yang adalah apa yang seharusnya berarti istilah toilet pelatihan), anak Anda mampu untuk berpakaian dan menanggalkan pakaian sendiri. Alasan utama untuk beralih dari popok celana pelatihan adalah karena anak Anda tidak dapat menghapus popok nya sendiri. Jadi menjaga dalam popok hingga Anda dapat melihat tanda-tanda (seperti melelahkan, dengusan atau memegang alat kelamin nya) bahwa dia adalah tentang untuk pergi.

Tidak beralih ke pakaian sampai dia dilatih toilet. Karena pakaian benar-benar tidak dapat menahan atau menyerap limbah anak-anak, beralih anak ke pakaian sebagai cara untuk memaksa dia menjadi dilatih toilet adalah sering kesalahan.

Menulis memerlukan keterampilan yang sangat kompleks seperti integrasi visual motorik, kognitif dan perceptual , serta sensitifitas kinesthetik dan taktil (Maeland dalam Santoso, 2005 : 1). Profesiensi menulis memerlukan maturasi dan integrasi keterampilan tersebut termasuk kemampuan merencanakan gerak ( motoric planning ), hubungan ruang dan jarak, serta elemen kekutan otot tangan untuk mengerjakan aktivitas menulis (Conhil & Case Smith, Maeland dalam Santoso, 2005 : 1). Identifikasi komponen yang mendasari ketampilan menulis sangat diperlukan untuk mengetahui defisit yang dialami anak sehingga terapis dapat menentukan teknik dan strategi pembelajaran menulis yang sesuai dengan problem yang dihadapi anak. Beberapa uraian diatas, penulis tertarik untuk meneliti anak penyandang down syndrome dengan judul “MELATIH MOTORIK ANAK DOWN SYNDROME DENGAN METODE PERSIAPAN MENULIS DI TK PERMATA BUNDA SURAKARTA”.

Melatoh Anak berdasarkan Kategori aktivitas

Secara umum anak memiliki tiga katagori aktivitas yang biasa
dikerjakan yaitu : aktifitas bantu diri, aktif
itas bermain, dan aktifitas kerja anak.
Bentuk aktifitas kerja anak di sekolah meliputi akademik seperti membaca,
menulis, menghitung, serta pemecahan masalah (Amundson & Well dalam
Santoso 2005 : 1). McHale dan Cermak dalam Santoso (2005 : 1) meneliti
proporsi waktu yang digunakan anak SD pada murid SD kelas 2, 4, dan 6,
diketahui bahwa 31% sampai 60 % menggunakan waktunya untuk aktivitas
motorik halus, dan sebagian besar proporsi waktu tersebut digunakan anak
untuk melakukan aktivitas yang menggunakan kertas dan pensil seperti
menulis. Sisa waktu yang lain di
gunakan untuk melakukan keterampilan
motorik halus yang lain seperti aktivitas yang melibatkan keterampilan
manipulasi tangan.

Umumnya anak yang berumur 6 atau 7 tahun telah mampu menulis
dengan pemberian pembelajaran menulis
tradisional (Bargman & MeLaughlin
dalam Santoso, 2005 : 1). Penguasaan keterampilan menulis pada usia dini
akan memberi kesempatan pada anak untuk meningkatkan kemampuan
menulis pada level yang lebih tinggi seperti mengarang tanpa harus
memberikan pembelajaran mekanika dan teknik menulis (Martlew dalam
Santoso, 2005 : 1). Sebaliknya, bagi anak dengan kebutuhan khusus seperti
ADHD,
Autis, Asperger Syndrome
dan sejenisnya memerlukan perhatian khusus untuk membelajarkan keterampilan menulis pada mereka. Mereka
harus berjuang untuk belajar menulis dengan mencurahkan perhatian dan
energi dalam mempelajari keterampilan dasar menulis seperti
integrasi visual
motorik
, persepsi bentuk huruf, dan memegang pensil yang benar.   

Problem yang sering dihadapi anak dengan kebutuhan khusus yang
telah duduk dibangku sekolah adalah anak sering ketinggalan atau mengalami
kesulitan untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya. Anak
menolak untuk belajar menulis karena merasa sulit untuk membentuk huruf
atau kesulitan menulis secara otomatis (Amundson & Weil dalam Santoso,
2005 : 1). Kesiapan (
readiness
) merupakan istilah yang menjelaskan
keterampilan dasar yang harus dicapai sebe
lum anak belajar keterampilan yang
baru (Slavin, Karweit, & Wasik dalam Santoso, 2005 : 2). Sovik dalam Santoso
(2005 : 2) menyatakan bahwa kesiapan menulis (
writing
readiness
) adalah
kemampuan anak untuk mencapai keterampilan menulis dengan adekwat yang
telah diberikan oleh seorang pengajar pada level yang sesuai dengan
perkembangan anak.

melatih anak berdasarkan kategori

Fakta yang terjadi adalah banyak orang tua yang mengajarkan
keterampilan menulis sebelum mereka
menguasai persyaratan yang harus
dikuasai anak untuk belajar menulis. Bila
anak dipaksa untuk belajar menulis
sebelum menguasai keterampilan menulis yang dipersyaratkan maka anak akan
terbiasa menulis dengan cara yang tidak benar. Bila hal ini terjadi terus
menerus maka kesalahan tersebut biasanya sulit dikoreksi (Weil &
Cunningham-Amundson dalam Santoso, 2005 : 2). Lamme dalam Santoso
8
(2005 : 2) mengidentifikasi enam persyaratan yang harus dikuasai anak untuk
mampu menulis, yaitu perkembangan otot-otot kecil tangan, koordinasi mata-
tangan, kemampuan untuk menggunakan alat tulis, kemampuan untuk
membuat coretan dasar seperti lingkaran dan garis-garis, memahami bentuk
huruf, orientasi pada bahasa tulisan. Beery dalam Santoso (2005 : 2)
menyebutkan sembilan bentuk geometri yang harus dikuasai anak untuk
mampu menulis, yaitu garis vertikal, garis horizontal, lingkaran, garis saling
horizontal dan vertikal, garis miring ke kanan, bujur sangkar, garis miring ke
kiri, garis saling miring, dan segitiga.

MELATIH MOTORIK ANAK

Kelainan khusus terhadap fisik atau mental pada anak dengan
kebutuhan khusus yang mempunyai
hendaya
perkembangan menghendaki
layanan pendidikan khusus sesuai Undang-Undang Republik Indonesia tentang
Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 tahun 1989 (dalam pasal 11 ayat 4 dan
pasal 38) dan dipertegas kembali dalam Undang-Undang Republik Indonesia
tentang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 dalam pasal 32 ayat
1, bahwa “Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang
memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti poses pembelajaran karena
kelainan fisik, emosional, mental, sosi
al, dan atau memiliki potensi kecerdasan
dan bakat istimawa.” Pendidikan yang dimaksud dalam Undang-Undang
Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional (1989/2 dan 2003/20)
mempertimbangakan bahwa setiap siswa berbeda-beda dalam tingkat
pencapaian kemampuan belajarnya.

melatih anak

Tingkat kemampuan belajar menurut Cohen dan Manion dalam Bandhi
Delphie (2006 : 55) terdiri atas :
1.
High achievers,
yaitu peserta didik dengan pencapaian prestasi belajar
mereka di atas re-rata kelompok,
2.
Average achievers,
yaitu peserta didik dengan pencapaian prestasi belajar
mereka berada pada tingkat kecenderungan umum dalam kelompok,
3.
Low achievers,
yaitu peserta didik dengan pencapaian prestasi belajar
mereka di bawah re-rata kelompok.

Anak dengan kondisi
down syndrome
mengalami keterbelakangan
secara fisik dan mental, karena
down syndrome
merupakan
salah satu dari
penyebab retardasi mental, dimana anak-anak dengan retardasi mental
mengalami keterlambatan dalam berbahasa-bicara. Keterbelakangan mental ini
diakibatkan oleh adanya gangguan pada sistem saraf pusat dan dalam terapi
wicara kondisi seperti ini disebut dengan
dislogia.

Berbagai hambatan yang dialami oleh anak
down syndrome,
salah satu
diantaranya adalah hambatan kemampuan motorik. Kemampuan motorik
adalah kemampuan dalam gerakan-gerakan yang dilakukan oleh anggota tubuh
untuk melakukan suatu aktivitas atau kegiatan. Menurut Tjutju Sutjihati
Soemantri (1995 : 165) perkembangan motorik anak
down syndrome
tidak
secepat anak normal. Ada keyakinan bahwa semakin rendah intelek seorang
anak akan semakin rendah pula kemampuan motoriknya, demikian pula
sebaliknya. Sedangkan menurut S. M. Lumbantobing (1997 : 39) meskipun
anak dengan
hendaya
(
impairment
) motorik mengkin mempunyai inteligensi
yang normal, namun keterlambatan dibidang motorik merupakan gejala yang
umum dijumpai pada reteradasi ment
al dan sering pula merupakan gejala pendahulu dari pada gangguan belajar (
learning disability
). Kemampuan
motorik anak
down syndrome
rendah, sebab inteligensi yang dimiliki anak
down syndrome
juga rendah.  

MELATIH KESABARAN ANAK DENGAN MERAJUT

Pelatihan pengembangan anak melalui merajut bukanlah tugas yang mudah. Hak merajut tutorial untuk anak-anak diperlukan agar anak-anak belajar dengan mudah. Tutorial tting kni saat ini tersedia dalam seni merajut masih menimbulkan kesulitan antara anak-anak dalam penerapan teknik rajut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebuah percobaan kualitatif yang menggunakan dua langkah tes, yaitu pra – menguji langkah, w hich digunakan tutorial merajut tersedia dalam seni merajut, dan t dia kedua adalah pengobatan, yang digunakan video tutorial sesuai dengan tutorial tersedia di Knitting seni.

melatih kesabaran anak

Kesabaran parameter digunakan sebagai instrumen penelitian untuk mengumpulkan data dari t dia pra – pengujian dan pengobatan. P atience p arameter menggunakan d skala diferensial untuk pengumpulan data. Dua langkah tes dilakukan pada lima siswa sekolah dasar Sekolah Dasar Internasional Temasek Bandung. Hasil dari perbandingan tes kedua menunjukkan peningkatan kesabaran dalam 4 siswa, sementara tidak ada perubahan ditemukan di 1 mahasiswa karena mahasiswa sudah punya nilai maksimum. Kenaikan tersebut membuktikan bahwa merajut menggunakan tutorial tepat dapat meningkatkan kesabaran anak umur di 7-8 tahun.

Continue reading

Anak Perlu dilatih sejak dini

Kepekaan  sosial  bukanlah  sesuatu  kemampuan  yang  dibawa setiap  anak sejak  lahir. Kepekaan  sosial muncul  dan  berkembang  dari  dan  melalui  pengalaman. Pengamalan belajar individu pada hakekatnya merupakan hasil dari interaksi antara pribadi individu dengan  lingkungannya. Karena  anak  lahir  dari  orang  tua  dan  besar  dalam  lingkungan

latih anak sejak dini – keluarga, maka penanaman kepekaan sosial adalah tugas pertama dan utama dari orang tua. Prinsip  pendidikan  kepekaan  sosial  adalah  lakukan  penanaman  di  rumah,  latihkan dalam sosialisasi dengan teman dalam lingkungan teman. 1.Latihan di rumahBagi anak, orang tua merupakan role modelbagi anak. Anak banyak belajar dengan meniru  apa  yang  dilakukan  oleh  orang  tua.  Tidaklah  berlebihan  ada  adagium  yang mengatakan, “jatuh buah tidak jauh dari pohonnya”.

Hal ini berarti bahwa orang tua tidak  dapat  mengharapkan  anaknyamemiliki  kepekaan  sosial  jika  orang  tuanya sendiri  tidak  berkepekaan  sosial. Keteladanan orang  tua  lebih  efektif  daripada  kata-kata.  Tindakan  berbicara  lebih  keras  daripada  perkataan  (actions  speak  louder  than words). Terkait  dengan  orang  tua  sebagai  role  model  kepekaan  sosial,  sayateringat  dengan salah seorang kerabat saat saya masih kecil dulu. Ayah dan ibu pada kerabat tersebut senantiasa mengajak anak-anaknya untuk merayakan ulang tahunnya di panti asuhan bersama  dengan  anak-anak  panti. 

definisi kepekaan sosial – Sang  orang  tua memiliki  tujuan  mengapa  ia merayakan ulang tahun anaknya di panti asuhan. Sang orang tua  mengajarkan pada anak  untuk  berbagi  dengan  sesama  tidak  seberuntung  dengan  sang  anak.  Apa  yang dilakukan oleh orang tua tersebut benar-benar membuat anak-anak mereka memiliki kepekaan   sosial   yang   tinggi,   yang   senantiasa   peduli   dengan sesama   yang berkekurangan.Cara lain yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam menumbuhkan kepekaan sosial ada  anak  adalah  melalui  cerita  atau  dongeng. Melalui  cerita  anak  akan  lebih  mudah menangkap  pesan  yang  hendak  disampaikan.  Untuk  itu,  pilihlah dongeng dengan tokohyang dapat menjadi model untuk mengajarkan kepekaan sosial pada anak.

Latihan melalui sosialisasi
Melatih
kepekaan
sosial
anak
tidak
dapat
hanya
melalui
kegiatan
bercerita/mendongeng, berbicara dari hati ke hati,
ataupun
dengan
contoh
perilaku
dari orang tua.
Anak membutuhkan pengalaman langsung untuk belajar dari
lingkungan sosialnya. Sebagai contoh, anak belajar berbagi ketika
ia
bersosialisasi
dengan temannya.
Sang akan
akan merasakan secara langsung bahwa jika ia tidak
mau berbagi dengan temannya, maka temannya juga tidak akan berbagi dengan
dirinya.

kepekaan sosial menurut para ahli – Melalui sosialisasi dengan teman sebaya, baik di lingkungan rumah maupun di
sekolah, anak akan dapat mempraktek
kan secara langsung apa yang diajarkan oleh
orang tua di rumah.
Melalui sosialisasi dengan teman di lingkungan rumah
atau
sekolah
,
anak
lebih kaya akan pengalaman. Hasilnya akan berbeda bila ia hanya
bersosialisasi dengan anggota keluarga di lingkungan rum
ah saja
. Mari kita mendidik
anak

anak kita menjadi anak yang memiliki kepekaan sosial.
Selamat
mencoba !