Melatoh Anak berdasarkan Kategori aktivitas

Secara umum anak memiliki tiga katagori aktivitas yang biasa
dikerjakan yaitu : aktifitas bantu diri, aktif
itas bermain, dan aktifitas kerja anak.
Bentuk aktifitas kerja anak di sekolah meliputi akademik seperti membaca,
menulis, menghitung, serta pemecahan masalah (Amundson & Well dalam
Santoso 2005 : 1). McHale dan Cermak dalam Santoso (2005 : 1) meneliti
proporsi waktu yang digunakan anak SD pada murid SD kelas 2, 4, dan 6,
diketahui bahwa 31% sampai 60 % menggunakan waktunya untuk aktivitas
motorik halus, dan sebagian besar proporsi waktu tersebut digunakan anak
untuk melakukan aktivitas yang menggunakan kertas dan pensil seperti
menulis. Sisa waktu yang lain di
gunakan untuk melakukan keterampilan
motorik halus yang lain seperti aktivitas yang melibatkan keterampilan
manipulasi tangan.

Umumnya anak yang berumur 6 atau 7 tahun telah mampu menulis
dengan pemberian pembelajaran menulis
tradisional (Bargman & MeLaughlin
dalam Santoso, 2005 : 1). Penguasaan keterampilan menulis pada usia dini
akan memberi kesempatan pada anak untuk meningkatkan kemampuan
menulis pada level yang lebih tinggi seperti mengarang tanpa harus
memberikan pembelajaran mekanika dan teknik menulis (Martlew dalam
Santoso, 2005 : 1). Sebaliknya, bagi anak dengan kebutuhan khusus seperti
ADHD,
Autis, Asperger Syndrome
dan sejenisnya memerlukan perhatian khusus untuk membelajarkan keterampilan menulis pada mereka. Mereka
harus berjuang untuk belajar menulis dengan mencurahkan perhatian dan
energi dalam mempelajari keterampilan dasar menulis seperti
integrasi visual
motorik
, persepsi bentuk huruf, dan memegang pensil yang benar.   

Problem yang sering dihadapi anak dengan kebutuhan khusus yang
telah duduk dibangku sekolah adalah anak sering ketinggalan atau mengalami
kesulitan untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya. Anak
menolak untuk belajar menulis karena merasa sulit untuk membentuk huruf
atau kesulitan menulis secara otomatis (Amundson & Weil dalam Santoso,
2005 : 1). Kesiapan (
readiness
) merupakan istilah yang menjelaskan
keterampilan dasar yang harus dicapai sebe
lum anak belajar keterampilan yang
baru (Slavin, Karweit, & Wasik dalam Santoso, 2005 : 2). Sovik dalam Santoso
(2005 : 2) menyatakan bahwa kesiapan menulis (
writing
readiness
) adalah
kemampuan anak untuk mencapai keterampilan menulis dengan adekwat yang
telah diberikan oleh seorang pengajar pada level yang sesuai dengan
perkembangan anak.

melatih anak berdasarkan kategori

Fakta yang terjadi adalah banyak orang tua yang mengajarkan
keterampilan menulis sebelum mereka
menguasai persyaratan yang harus
dikuasai anak untuk belajar menulis. Bila
anak dipaksa untuk belajar menulis
sebelum menguasai keterampilan menulis yang dipersyaratkan maka anak akan
terbiasa menulis dengan cara yang tidak benar. Bila hal ini terjadi terus
menerus maka kesalahan tersebut biasanya sulit dikoreksi (Weil &
Cunningham-Amundson dalam Santoso, 2005 : 2). Lamme dalam Santoso
8
(2005 : 2) mengidentifikasi enam persyaratan yang harus dikuasai anak untuk
mampu menulis, yaitu perkembangan otot-otot kecil tangan, koordinasi mata-
tangan, kemampuan untuk menggunakan alat tulis, kemampuan untuk
membuat coretan dasar seperti lingkaran dan garis-garis, memahami bentuk
huruf, orientasi pada bahasa tulisan. Beery dalam Santoso (2005 : 2)
menyebutkan sembilan bentuk geometri yang harus dikuasai anak untuk
mampu menulis, yaitu garis vertikal, garis horizontal, lingkaran, garis saling
horizontal dan vertikal, garis miring ke kanan, bujur sangkar, garis miring ke
kiri, garis saling miring, dan segitiga.