MELATIH MOTORIK ANAK

Kelainan khusus terhadap fisik atau mental pada anak dengan
kebutuhan khusus yang mempunyai
hendaya
perkembangan menghendaki
layanan pendidikan khusus sesuai Undang-Undang Republik Indonesia tentang
Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 tahun 1989 (dalam pasal 11 ayat 4 dan
pasal 38) dan dipertegas kembali dalam Undang-Undang Republik Indonesia
tentang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 dalam pasal 32 ayat
1, bahwa “Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang
memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti poses pembelajaran karena
kelainan fisik, emosional, mental, sosi
al, dan atau memiliki potensi kecerdasan
dan bakat istimawa.” Pendidikan yang dimaksud dalam Undang-Undang
Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional (1989/2 dan 2003/20)
mempertimbangakan bahwa setiap siswa berbeda-beda dalam tingkat
pencapaian kemampuan belajarnya.

melatih anak

Tingkat kemampuan belajar menurut Cohen dan Manion dalam Bandhi
Delphie (2006 : 55) terdiri atas :
1.
High achievers,
yaitu peserta didik dengan pencapaian prestasi belajar
mereka di atas re-rata kelompok,
2.
Average achievers,
yaitu peserta didik dengan pencapaian prestasi belajar
mereka berada pada tingkat kecenderungan umum dalam kelompok,
3.
Low achievers,
yaitu peserta didik dengan pencapaian prestasi belajar
mereka di bawah re-rata kelompok.

Anak dengan kondisi
down syndrome
mengalami keterbelakangan
secara fisik dan mental, karena
down syndrome
merupakan
salah satu dari
penyebab retardasi mental, dimana anak-anak dengan retardasi mental
mengalami keterlambatan dalam berbahasa-bicara. Keterbelakangan mental ini
diakibatkan oleh adanya gangguan pada sistem saraf pusat dan dalam terapi
wicara kondisi seperti ini disebut dengan
dislogia.

Berbagai hambatan yang dialami oleh anak
down syndrome,
salah satu
diantaranya adalah hambatan kemampuan motorik. Kemampuan motorik
adalah kemampuan dalam gerakan-gerakan yang dilakukan oleh anggota tubuh
untuk melakukan suatu aktivitas atau kegiatan. Menurut Tjutju Sutjihati
Soemantri (1995 : 165) perkembangan motorik anak
down syndrome
tidak
secepat anak normal. Ada keyakinan bahwa semakin rendah intelek seorang
anak akan semakin rendah pula kemampuan motoriknya, demikian pula
sebaliknya. Sedangkan menurut S. M. Lumbantobing (1997 : 39) meskipun
anak dengan
hendaya
(
impairment
) motorik mengkin mempunyai inteligensi
yang normal, namun keterlambatan dibidang motorik merupakan gejala yang
umum dijumpai pada reteradasi ment
al dan sering pula merupakan gejala pendahulu dari pada gangguan belajar (
learning disability
). Kemampuan
motorik anak
down syndrome
rendah, sebab inteligensi yang dimiliki anak
down syndrome
juga rendah.